Nafas Kehidupan

Ditulis oleh si Mbak yang sudah pasti tak akan pernah suka jika namanya ditulis disini.

“Kak, hapalanku masih sedikit. Dokter memvonis usiaku tersisa 4 tahun lagi. Dulu aku sering muntah darah tapi semoga besok-besok tidak. Bagaimana ini Kak.”

Sejenak aku terhenyak dengan cerita gadis yang masih sangat belia yang mendekatiku di saat forum selesai dan teman-temannya berhamburan mengambil air wudlu. Sejenak ia menyeka air matanya dan aku hanya diam menatapnya.

Apa fokus dari kalimatnya??
Ia tidak mengkhawatirkan waktunya yang divonis tinggal 4 tahun. Ia mengkhawatirkan hapalan yang masih sedikit dengan waktu yang tinggal sedikit pula.

Dia menunggu kalimatku.
Dengan mantap aku katakan padanya, bahwa itu hanya vonis. Allah yang lebih tahu. Teruslah menghapal dan minta sama Allah agar dianugerahi selesai 30 juz sebelum waktu kita habis.
Dia mengangguk, lalu pergi dengan sekilas senyuman.

Gadis belia tadi membuatku berpikir, jika kita tahu hidup kita berakhir, mungkin kita akan balik jungkir sibuk mengukir amal sholih demi menyiapkan hari H Izrail datang. Tapi, garisnya tidak begitu. Allah tidak memberi tahu kita kapan kita akan menutup lembaran kisah hidup kita di dunia. Itulah tantangannya.

Ujian terbesar dalam sebuah perjalanan adalah waktu. Kita diminta tetap dalam kebaikan sampai batas waktu yang tidak kita mengerti. Maka, menjadikan amal sholih sebagai nafas kehidupan adalah sebuah keniscayaan. Jika batas akhir telah tiba, hembusan terakhir nafas kita adalah kebaikan.

Selelah apapun kau beraktivitas, tetaplah bersemangat menyelesaikan dzikir harianmu berupa tilawah dan muroja’ah. Itulah salah satu nafas kehidupan kita.

Seperti tadi siang, gadis-gadis belia itu meng-aaminkan saat kita merajut doa agar Allah hentikan nafas kita saat kita sedang dalam udara kebaikan berupa tilawah, muroja’ah, atau ziyadah.

Teruslah ceria meski payah terasa. Seceria gadis yang divonis tak lama lagi usianya. Sambil tersenyum ia berkata,
“Kak, doakan aku ya..”

Teruslah bergerak dengan nafas kebaikan meski lelah menggelayuti raga. Karena istirahat hanya sebentar sampai di surga.

Yogyakarta, 9 Desember
Sayyidul ayyam. Jum’at mubarok..
Di dalam mushola berpemandangan sawah. bersama para pemegang masa depan bangsa. Anak-anak SMP yang semangat menghapalnya menyala-nyala..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s