Malu Adalah Karakter dari Agama Islam

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu..

Dari Anas dan Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Setiap agama memiliki karakter dan karakter agama Islam adalah rasa malu.”
(Hadits hasan riwayat Ibnu Majah)

img-20160919-wa0004

Penjelasan Hadits
Hadits ini menjelaskan tentang salah satu akhlak yang ada pada kaum muslimin. Setiap umat memiliki sebuah karakteristik tertentu yang lebih dominan dibandingkan karakteristik lain yang ada pada umat tersebut dan karakteristik yang ada pada umat selainnya. Maka, Rasulullah menyebutkan bahwa karakter yang lebih dominan pada umat Islam adalah sifat malu.

Pada dasarnya, sifat malu adalah sebuah sifat yang terpuji. Bahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan bahwa sifat malu adalah termasuk cabang keimanan. Beliau bersabda,
“Iman memiliki 70 sekian atau 60 sekian cabang. Cabang keimanan yang paling tinggi adalah ucapan ‘Laa ilaha illallah’. Sedangkan cabangnya yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan, sifat malu adalah merupakan cabang diantara cabang-cabang keimanan.”

Beliau menyebutkan bahwa rasa malu adalah bagian dari keimanan. Hal demikian karena sifat malu pada hakikatnya adalah sebuah sifat yang menjadikan orang yang memilikinya meninggalkan hal-hal jelek dan tidak pantas dilakukan, serta menjadikannya dapat mengontrol diri dari menyepelekan kewajiban yang seharusnya dia tunaikan.

Oleh karena itu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
“Sesungguhnya diantara pesan yang didapatkan oleh umat manusia dari para nabi terdahulu adalah ucapan,
‘jika kalian tidak merasa malu (atas perbuatan jelek yang kalian lakukan), maka berbuatlah sesuka kalian’.”

Beliau mengabarkan bahwa sifat malu itulah yang akan menjadikan seseorang menahan diri dari perbuatan yang tidak pantas dilakukan.

Maka kesimpulan dari hadits ini adalah bahwa seorang muslim seharusnya memiliki sifat malu yang sebenarnya, yaitu sifat malu yang menjadikan dirinya menahan diri dari melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan serta menjadikan dirinya senantiasa berusaha menunaikan kewajiban atas hak-hak yang harus dia penuhi, baik itu adalah hak-hak Allah maupun hak-hak diantara sesama makhluk.

Namun, ada satu hal yang perlu kita ketahui bahwa terkadang sebagian orang menyayangkan bahwa perasaan malu dalam mencegah kemungkaran atau bahkan dalam menjalankan suatu amalan kebaikan adalah termasuk sifat yang terpuji. Padahal, hal demikian itu pada hakikatnya bukanlah sifat malu yang sebenarnya, namun itu adalah perasaan orang yang jiwanya lemah dan takut kepada kritikan manusia serta tidak memiliki keinginan untuk memperoleh kebaikan bagi dirinya.

Sehingga, tidak bisa dikatakan sebagai bentuk rasa malu yang dianjurkan. Karena rasa malu yang hakiki adalah rasa malu kepada Allah jika kita lalai di dalam menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Wallahu ta’ala a’lam
Ustadz Fathul Ulum Lc hafidzahullah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s