Antara Ilmu dan Tsaqafah (Pengetahuan)

Sebuah dikotomi antara ilmu akhirat dan ilmu dunia. Kenapa harus dibagi?? Bukankah semua ilmu berasal dari Satu Pemilik Ilmu??

Begitu banyak definisi ilmu. Bahkan sebuah buku menyebutkan, definisi ilmu yang ada sekarang pun belum dapat menjelaskan secara tepat apakah ilmu itu. Sebagian besar akan membagi ilmu menjadi 2 bagian. Ilmu dunia dan ilmu akhirat. Tapi, ada satu penjelasan dari Ustadz Hanan Attaki yang begitu fleksibel membagi ilmu. Bukan lagi dunia akhirat tapi ilmu dan tsaqafah (pengetahuan).

Ilmu adalah apa-apa yang dipahami oleh akal, diterima oleh hati, dilakukan oleh anggota badan dan membuat mereka yang sudah mengilmui tunduk pada Pemilik Ilmu.
Sementara yang lain, yang tidak sampai pada batas ketundukan, yang hanya menjadi pemuas akal, hanya disebut tsaqafah.

Jika pengetahuan tentang perputaran benda langit bisa ditangkap hakikatnya oleh akal, diterima oleh hati, diaplikasikan oleh badan, dan membuat semakin tunduk pada Illaahi Rabbi, maka itulah ilmu.
Jika pengetahuan tentang jatuhnya sebuah daun bisa ditangkap hakikatnya oleh akal, diterima oleh hati, diaplikasikan oleh anggota tubuh, dan membuat semakin tunduk pada Illaahi rabbi, maka itulah ilmu.
Jika pengetahuan tentang cara-cara berwudlu bisa ditangkap oleh akal, diterima oleh hati, diaplikasikan oleh anggota badan, dan membuat semakin tunduk pada Illaahi rabbi, maka itulah ilmu.
Jika pengetahuan tentang tafsir Al Qur’an bisa ditangkap oleh akal, diterima oleh hati, dilaksanakan oleh anggota badan, dan membuat semakin tunduk pada Illaahi rabbi, maka itulah ilmu.

Seperti Umar radhiallahu’anhu yang bertanya pada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
“Ya Rasulallah, apakah perilaku ku sudah sesuai dengan surah Al Baqarah??”

Seperti para shahabat yang tak akan melanjutkan 10 ayat selanjutnya sebelum 10 ayat Al qur’an yang dipelajari teraplikasikan dalam kehidupan mereka.

Seperti Kyai Haji Ahmad Dahlan yang terus mengulang tafsir Al Ma’un dalam forum hingga para santri bergerak merintis berdirinya puluhan sekolah dan rumah sakit.

Seperti nasihat Ibunda Sufyan Ats Tsauri,
“Wahai anakku! Ambillah sepuluh dirham ini dan pelajarilah sepuluh hadits. Apabila hal itu dapat merubah cara dudukmu, jalanmu dan pembicaraanmu kepada manusia, maka teruskanlah belajar, dan ibu akan menafkahimu dari hasil tenunanku ini. Tapi jika tidak, maka tinggalkanlah, karena ibu khawatir hal itu menjadi bencana bagimu di hari kiamat.”

Seperti kata Bapak,
“Pelajari lalu berhentilah sejenak. Endapkan.”

Terbukti sudah, kejahilannya. Makhluk yang menuliskan ini semua…

~Just a random thought over a lot of things…

Advertisements

2 comments on “Antara Ilmu dan Tsaqafah (Pengetahuan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s