Prinsip-Prinsip Lama

#1
Tulislah Sesukamu

“Hati tidak pernah cukup untuk jadi brankas raksasa untuk menyimpan semua perasaaanmu yang melimpah melebihi samudera.”

Bus tujuan, entah aku lupa. Itu, sudah terlalu lama. Yang pasti, di salah satu tempat duduk di pinggir bukan dekat jendela dengan dada sesak dengan segala perjalanan yang seakan tak jelas dimana pemberhentiannya. Aku membacanya. Sebuah tulisan dari seorang senior ketika di bandung. Perlahan, semua rasa sesak itu keluar tak terkendali. Membuat mata memburam. Entah karena terlalu lelah, entah seakan tulisannya benar-benar menggambarkan perasaan saat itu. Entah…yang jelas setelahnya, aku selalu melakukannya. Menulis apa saja ketika dada menyesak…

#2
Write as if there’s no one will read
Sebuah frase yang didapat ketika bercengkerama dengan bang tweeto. Ketika sebagian besar menulis untuk dibaca, entah kenapa, si bloggie hanya diperuntukkan untuk diri sendiri. Menulis untuk orang lain, sudah ada tempatnya sendiri.
Menulis untuk diri sendiri itu, terapi. Menulis itu, menguatkan langkah ketika diri tak jua kunjung berani. Menulis dengan merasa bahwa tak akan ada seorang pun yang membaca, membuat leluasa untuk mengeluarkan semua yang ada dalam dada. Meski hasilnya hanya sebuah sampah racun tanpa makna. Setidaknya, ia tak lebih jauh merusak tubuh. Meski, mungkin sebenarnya, masih ada 1001 cara yang lebih baik untuk melakukannya.

#3
Life is short. Stunt it!!
Sebuah prinsip yang dulu sering berulang-ulang diucapkan ketika ketakutan untuk melangkah itu begitu kuat mencengkeram. Mati itu bisa kapan saja. Jika sampai besok kau mati dan apa yang ingin kau lakukan saat ini tak kau jua kau lakukan, bukankah hanya akan ada penyesalan?? Mau kah, mati penasaran?? Toh kalo besok mati, semua ini akan ditinggalkan juga. Apa yang ditakutkan??
Hiduplah, tanpa ada satu pun penyesalan..

Prinsip-prinsip lama, yang entah apakah masih bisa digunakan lagi ke depannya..

Tapi, selama bertahun ke belakang, prinsip-prinsip inilah yang mampu membuat diri maju melangkah. Menggapai apa yang tertulis dengan spidol tebal di kalender tahunan. Ketika keraguan datang, panggil prinsip no 3. Ketika dada menyesak di tengah perjalanan, panggil no 1&2. Tangan bisa kembali terkepal dan langkah-langkah lemah itu, terkuatkan.

Time walked, people changed..

Seekor burung yang terlalu lama berada di kurungan, akan ada saat sayapnya sedikit demi sedikit melemah. Saat itu, akankah prinsip-prinsip itu dipanggil lagi??
Entah…
Entah, karena terkadang diri pun bisa menjadi sangat tidak yakinnya..

Zona nyaman itu, teramat mematikan. Hanya mereka yang berani mengambil resiko yang bisa disebut sebagai orang yang bebas. Bebas dari belenggu kelemahan diri. Kesakitan karena terdiam itu terasa lebih menyakitkan daripada kesakitan ketika bergerak menembus panas hujan di jalanan. Kesakitan ketika menjaga agar otak tak terlalu sakit itu lebih menyakitkan daripada ketika ia maksimal digunakan sampai tersakiti. Semakin nyaman, ketakutan itu semakin terasa. Menyayat, semematikan belati macbeth.

Ada terlalu banyak kejadian. Ada terlalu banyak kemunduran. Dan, selalu ada waktu untuk membaca kembali semua tulisan lama. Menunggang mesin waktu, mengingat data historis, dan menggunakannya untuk melecut kuda masa depan…

“Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu.”

“Bukankah, seekor burung tak kan pernah suka terkurung??
Lalu, kenapa tak jua terbang??”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s