Dua hari ini, seruangan dengannya. Seorang difabel dengan karakternya yang selalu terlihat lively. Untuk mengerjakan soal, ia perlu bantuan seorang panitia. Si bapak duduk disampingnya. Ia akan memberitahu si bapak jawabannya, dan si bapak akan melingkarinya di lembar jawaban.
-Seperti Stephen Hawking dengan ALS nya, mungkin.-

Melihat semangatnya, kemudian terpikir,
‘Tak malu kah, dengan semua pemberianNya yang tanpa cacat tapi tak pernah maksimal digunakan. Sedang ia, dengan keterbatasannya, dengan penuh percaya dirinya melangkah menggapai citanya.’

Semua titipanNya ini, akan ditanya penggunaannya. Akankah ia menjadi kebaikan yang mengalir meski jasadnya sudah tak berupa lagi. Atau ia hanya akan terhenti ketika ruh dicabut nanti. Atau ia hanya serupa onggokan yang sudah mati meski ruh masih ada di dalam diri. ??

Lalu, tersadarkanlah satu hal lagi. Masih terlalu seringnya berkutat dengan diri sendiri. Hingga dengan sekeliling pun menjadi kurang peduli. Masih ada banyak berserakan hal diluar diri yang bisa disapu dan dikumpulkan kemudian diproses daur ulang dan diberikan lagi untuk sekitar.

Semoga Allah selalu buka kan, hikmah yang tertutup…
Semoga Allah gerak kan, apa-apa yang belum juga beranjak…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s