Bahagia atau Berkah..??

Bekasi, bertahun lalu.
“Yang dicari manusia di dunia ini apa lagi kalo bukan kebahagiaan. Ya kan, Dek?” tanya si Mbak tetiba.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Menyisakan sebuah ruang di hati untuk sebuah tanya,
“Benarkah??”

Yogya, 2014. Kuliah hari terakhir, beberapa hari sebelum ramadhan datang.
“Mungkin bukan hidup yang paling bahagia, melainkan hidup yang paling berkah.”

Sebuah kalimat dari ustadz Salim yang kutulis di trotoar jalan dengan rentetan kalimat lainnya. Pencegah hati agar tak pecah. Sebuah kalimat yang tak begitu ku mengerti maknanya. Kala itu.
Bukankah bahagia adalah hasil dari keberkahan??
Bukankah jika kita ambil keberkahan, akan ada bahagia disana??

Lalu, seiring berjalannya waktu. Ada beberapa yang kumengerti.
Bahagia belum tentu berkah. Bahagia belum tentu mendatangkan kebaikan. Bukankah ada jenis kebahagiaan yang malah menjauhkan dari Sang Pemberi Bahagia??

“Meski berat tapi jika di dalamnya ada keberkahan, ambillah.” kata Ustadz Bagus
Seperti Nabi Nuh, dengan kepayahannya menahan sakit. Seperti Bilal yang memilih dadanya tertindih batu di terik matahari. Bukankah sepertinya jalan yang mereka pilih adalah jalan yang menjauhi kebahagiaan??

“Biarlah bahagia menjadi makmum bagi Islam, iman, dan ihsan kita. Membuntuti hingga ke surga.” tulis Ustadz Salim
Jawaban untuk 2 pertanyaan di awal kan 🙂

Yapp, bahagia hanya salah satu dari banyak rasa yang tercipta dari berkah. Jika dimasukkan ke dalam istilah himpunan bagian, anggap saja kalo bahagia itu adalah subset dari himpunan bagian berkah. Subset yang lainnya, masih banyak. Rasa-rasa surga yang tertiup sampai ke dunia. Bahagia tiap detiknya itu suatu kemustahilan, tapi keberkahan setiap detiknya itu suatu keniscayaan.

Maka, untuk pertanyaan,
“Benarkah??”
Jawabannya adalah,
“Bukan. Bukan kebahagiaan, tapi keberkahan.”

Bukankah perbedaan tujuan akan membuahkan sebuah metode yang berbeda untuk mencapainya??

“Jika bahagia dijadikan tujuan, kita akan luput menikmatinya sepanjang perjalanan. Jika bahagia dijadikan cita, kita akan kehilangan ia sebagai rasa. Jika bahagia dijadikan tugas jiwa, kita akan melalaikan kewajiban sebagai hamba. Jika bahagia dijadikan tema besar kehidupan, kita bisa kehilangan ia setelah kematian.”

Masih ingat perkataan Dan Milman dalam Way of The Peaceful Warrior??
“Finally, I saw through the clouds. I saw that I had never learned how to enjoy life only to achieve. All my life I had been busy seeking happiness but never finding or sustaining it.”

Atau, ingin seperti Sam dalam pencarian akhir arti kebahagiaan,
“Just smile without a reason.”
Bodoh, kan 🙂
Seperti kebahagiaannya versi Camus. Bahagia yang hanya pura-pura. Absurdisme.

And knowing that, tanganNya akan selalu terentang memberikan bantuan ketika berkah yang menjadi tujuan. Dan sejatinya, dalam hidup, itulah yang sangat kita harapkan. PertolonganNya..

Advertisements

2 comments on “Bahagia atau Berkah..??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s