Gerak Semesta

“Mbak Nuri, ayo duduk diluar. Berani gak?” kata si Om
“Ehmm..Coba deh Om” kataku sembari mencoba berdiri. Memegang si kreki.

Sebuah tanjakan cukup tinggi yang belum berani kulewati sendiri. Si Om menggotong kursi yang semula kududuki keluar. Meletakkannya di bawah rindangnya pohon mangga di halaman. Memilih tempat yang sedikit terkena sinar matahari. Dan tarra…duduklah aku disana. Di bawah rindangnya pohon mangga. Mendengarkan celoteh si Om, si Mbak, dan adek sepupu yang duduk di sebuah kursi panjang. Menikmati lagi duduk di bawah langit biru. Menikmati lagi hangatnya sinar matahari menyentuh kulit kaki.

Sebelumnya,
Si Om berjalan lempeng melewati kamar yang pintunya terbuka lebar. Aku yang masih terbaring, melihatnya sekilas. Saat itulah, ia pun melihat ke arahku. Arah jalannya yang semula lurus ke depan, diubahnya memasuki kamar. Menanyakan kabar, lalu menceritakan kisah itu. Kisah almarhumah ibu beliau. Kisah yang sampai sekarang menguatkan tiap kali ingin mencoba sesuatu yang baru. Kisah yang membuat berani membuat 2 progress dalam sehari kala itu. Melangkah keluar rumah dan melewati satu tanjakan agak tinggi di dalam rumah menuju ke ruang makan. Makan disana. Akhirnya..

***

Setiap pergerakan, Allah yang ciptakan. Gerak hati si Om yang mengubah langkahnya, kisah si Om yang menggerakkan hati. Gerak, yang sangat kuyakini sebagai gerak yang Ia cipta untuk melindungiku. Persis seperti yang Ia tawarkan, dulu, ketika aku masih berusia 4 bulan di janin Ibu.

“Hei janin kecil, ayo ikut sini. Akan Kucukupkan setiap kebutuhanmu. Akan Kulindungi setiap waktu. Akan Kujaga dengan sebaik-baik penjagaan. Akan Kurawat ketika butuh perawatan.” kataNya lembut kala itu.

“Balaa, ya Rabbi” pun aku jawab dengan penuh kerelaan.

Balaa, sebuah jawaban persetujuan yang tak mengandung keterpaksaan. Balaa, sebuah jawaban yang mengandung kepercayaan penuh. Balaa, sebuah jawaban yang penuh ketundukan. Balaa, sebuah jawaban tanpa ada sedikit pun kepundungan.

Persis, seperti ketika Ia terus menerus berikan penjagaanNya selama hidup. Begitulah seharusnya “balaa” dijaga.

“Balaa, Rabbi..”
Sepenuh hati mengikuti hingga saat ketika Kau akhirnya mengucapkannya,
“Hambaku, ayo pulang. Tak rindukah kau bertemu denganKu??”

Yapp…begitulah yang kuyakini. Segala pergerakanNya, dibuat untuk melindungiku.

Karena hidup, hanyalah seputar keyakinan..

Rabbi…

[7:172]
ひさしぶりね、bloggie-chan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s