Nafas Kehidupan

Ditulis oleh si Mbak yang sudah pasti tak akan pernah suka jika namanya ditulis disini.

“Kak, hapalanku masih sedikit. Dokter memvonis usiaku tersisa 4 tahun lagi. Dulu aku sering muntah darah tapi semoga besok-besok tidak. Bagaimana ini Kak.”

Sejenak aku terhenyak dengan cerita gadis yang masih sangat belia yang mendekatiku di saat forum selesai dan teman-temannya berhamburan mengambil air wudlu. Sejenak ia menyeka air matanya dan aku hanya diam menatapnya.

Apa fokus dari kalimatnya??
Ia tidak mengkhawatirkan waktunya yang divonis tinggal 4 tahun. Ia mengkhawatirkan hapalan yang masih sedikit dengan waktu yang tinggal sedikit pula.

Continue reading

Advertisements

Al Qur’an Sebagai Syifa’ (Obat) Hati

Al Maidah 118, sebuah ayat Al Qur’an yang diulang-ulang dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dalam tahajud beliau. Tahu berapa lama sholat tahajud Rasulullah?
Jika dikira-kira mungkin dimulai dari jam 2 malam sampai selesai menjelang subuh. Lama kan. Pantaslah jika beliau menjadi manusia terlapang sejagad raya πŸ™‚
Sholat selama hampir 2 jam dan hanya satu ayat yang dibaca. Kira-kira berapa banyak ayat ini terbaca??

Begitu pula dengan yang dilakukan istri beliau, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ketika mendapat fitnah dalam peristiwa Haditsul Ifki. Peristiwa tersebarnya kabar bohong beliau dengan Shofwan Ibn Muatil yang mendapat pemutihan langsung dari Allah.
Yusuf 87, ayat yang beliau radhiallahu ‘anha ulang sepanjang qiyamul lail beliau. Setiap kali beliau ulang, setiap kali itu pulalah beliau menangis.

Continue reading

Ruh Kehidupan

You know, we should make it a habit whenever we’re sad, angry, or upset, to turn to the Qur’an. You don’t even need to pray a whole juz, just a few lines can calm and console your heart. Wallah, no amount of ranting can bring your heart happiness than reciting the words of Allah. ~Al-Firdaus

-xxx-

Anak-anak kecil di jalanan Palestina itu, ketika ditanya,
“Nak, apa cita-citamu?”
Jawab mereka,
“Syahid, al mautu fi sabilillah”
Tanya relawan kembali,
“Bagaimana caranya Nak, untuk syahid?”
Kata mereka
“Dengan Qur’an”
Si relawan melanjutkan pertanyaannya
“Kenapa Nak, dengan Qur’an?”

“Sebab, yang dipilih oleh Izzuddin Al Qassam untuk berada di titik-titik yang paling memungkinkan untuk syahid adalah orang-orang yang paling akrab dan paling mesra dengan Al Qur’an” jawab mereka dengan wajah polos penuh keyakinan.

-xxx-

Sebab, yang dipilih oleh Allah untuk menjadi saksi-saksi baginya, yang tidak mati meskipun telah pergi dari bumi, yang ruhnya tetap hidup di sisi Allah dan mendapat rizki yang berlimpah, adalah yang paling mesra dengan kalamNya, dengan penghayatannya.

Al Qur’an, yang membuat mereka tawadhu’ khusyuk. Al Qur’an, yang membuat akhlak mereka mulia. Al Qur’an, yang membuat roket-roket itu bergerak tepat mengenai sasaran dan menimbulkan ketakutan bagi musuh-musuh mereka.

Karena Al Qur’an, adalah ruh kehidupan. Karena Al Qur’an, adalah sumber kebangkitan. Kebangkitan diri, kebangkitan masyarakat, kebangkitan bangsa negara, kebangkitan peradaban.

Maka, mohonlah dengan sangat, agar Allah menyatukan Al Qur’an dengan diri-diri kita. Agar dalam setiap gerak kita adalah terjemah dari Al Qur’an.

~Salim a Fillah~

Cara Anak Suriah Menghapal Al Qur’an

Seperti biasa, beliau tidak begitu saja mengakhiri pertemuan. Terseling kisah motivasi untuk terus membangkitkan semangat kami. Sensei berparas bidadari beraura sejuk bercahaya itu menceritakan kisah anak-anak suriah yang menghapal dalam sebuah majelis Qur’an.

“Anak-anak itu duduk berbaris tenang di depan seorang Syaikh. Syaikh akan membacakan satu dua ayat yang akan dihapal. Anak-anak tersebut menuliskan ayat yang dibacakan Syaikh pada sebuah batu sabak. Tahu batu sabak kan?? Yang dulu sering digunakan untuk menulis sebelum ada kertas.” cerita beliau

“Setelah itu, satu persatu maju di hadapan Syaikh dan membacakan hapalannya masing-masing.” lanjut beliau

Menuliskan ayat yang akan dihapal. Bukan hanya mengukir ayat-ayat tersebut diatas alat tulis, bukan pula mengukirnya di dalam otak tapi mengukirnya di dalam hati. Mengukirnya dalam hingga tak akan lagi mudah terhapus.

Semakin keras sebuah hati, semakin sulit pula mengukir ayat-ayat di dalamnya. Vice versa. Semakin lembut dan bersih sebuah hati, semakin mudah pula ayat-ayatNya terukir, dengan izinNya.

Al Qur’an itu cahaya. Nur yang tak akan bisa bersatu dengan kegelapan. Satu sama lain akan saling menafikan ketika berada dalam satu tempat. Cahaya atau kegelapan…

Ahlullah…Shohibul Qur’an…
Lord…
γŠγ­γŒγ„γ€‚γ€‚

~0~

Just, suddenly, miss that tranquility…
Miss YOU too…Lord
ほんとうに。。

A serene night with the clear night sky,
Ketika merahnya Antares kalah terang dengan merahnya Mars
πŸ™‚

Al Qur’an, Peningkat Iman

IMG-20160201-WA0004

Allah telah memuji diriNya tatkala menurunkan Al Qur’an kepada hambaNya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hambaNya Al Qur’an dan Allah tidak menjadikan dalam Al Qur’an tersebut ada kepincangan sama sekali.” [18:1]

Continue reading

Tanpa Musik

Just Saving For Myself πŸ™‚

Ibnul Qayyim, seorang ulama besar menceritakan kondisi pecandu musik pada kita. Salah satu tanda munafik adalah sedikit berdzikir pada Allah, malas saat mendirikan sholat, juga sholat dengan mematuk. Lalu Ibnul Qayyim melanjutkan, inilah sifat orang yang menggandrungi musik, kecuali hanya sedikit.

Continue reading

A Little Girl’s Story

Kisah yang ini, ingat??

Seorang gadis kecil dan penyakit di kepalanya. Pendarahan otak setelah terjatuh dari ketinggian sekitar 15 meter, entah bagaimana rasa sakitnya. Tapi, tak berhenti ia mencoba menghapal ayat demi ayat kalam Rabbnya. Meskipun terkadang ia harus berhenti ketika rasa sakit di kepalanya sudah tak dapat ditahan lagi. Rasa sakit yang terkadang membuatnya harus membenturkan kepalanya berkali-kali diatas tempat tidur.

Dalam kesakitan yang tak berkesudahan, doa anak ini luar biasa, doa yang jujur pada Rabbnya,

“Ya Allah, jangan matikan aku sebelum aku selesai menghapal Al Quran..”

Doa yang jujur, niat yang kokoh, tekad yang kuat. Allah pun kabulkan doanya. Kurang dari 3 tahun anak ini dapat menghapal Al Qur’an dengan sanad sampai ke Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Ingat-ingatlah kisah mereka. Ada banyak cerita. Ada banyak kondisi. Hanya harus mengingatnya dan merenungkannya serta bersyukurlah jika Allah pun menggerakkan hati untuk bisa menirunya…

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [10:57]

“Successful Hufazz don’t seek comfort, they seek success and are willing to do what is most uncomfortable. Knowledge requires sacrifice..” [someone in somewhere]

Allahumma sholli ‘ala sayyidina muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi sholaatan anaala bisirrihaa khifdhol qur’an wal ‘amala bihi warzuqni minhu ‘ilmam muniroo wa sallama tasliiman katsiiroo.

Al Qur’an Itu, Peluklah Erat…

Al istisyhadiyun, para pengejar syahid, itu selalu membacanya, Al Qur’an. Di lorong-lorong persembunyian ketika menunggu aba-aba maju perang, di sepanjang pertempuran, di keseharian. KalamNya kuat tertanam di dada mereka. Hati-hati yang bersih yang telah Allah pilih untuk Ia beri cahayaNya.

Anak-anak kecil yang terluka itu tetap menangis ketika serpihan-serpihan bom menghujani tubuh mereka tapi yang keluar dari mulut kecil mereka bukan erangan kesakitan melainkan lantunan Al Qur’an.

Musuh Islam itu mencoba membantai anak-anak calon penghapal Al Qur’an. Tak lupa mereka juga membuat propaganda-propaganda yang teramat halus untuk menjauhkan kaum muslimin dari kitab sucinya. Sesuatu yang ditakuti lawan hendaknya terus dipertahankan kan..

“Maka, mari kembali pada Al Qur’an”
Sayangnya, pernyataan tersebut sebenarnya adalah sebuah pernyataan yang salah kata seorang ulama. Al Qur’an itu seharusnya sejak dari awal dipegang erat dan tak dilalaikan apalagi dilepaskan..

Allahumaghfirli…

~0~

[image]

Akhir yang Sempurna

Bulan Ramadhan entah tahun ke berapa. Beliau tidak menyebutkan tepatnya. Seorang bapak sedang berada di lantai dua sebuah masjid. Bermuroja’ah surah Ar Rahman. Hingga sampai ayat “Kullu man ‘alaiha fan..” (semua yang ada di bumi ini akan binasa) beliau tersungkur ke belakang. Orang yang berada di belakangnya menangkap tubuhnya. Mobil ambulan dipanggil. Apa daya, Allah sudah lebih dulu memanggilnya.

Pukul dua malam kala itu. Jenazah diantar mobil ambulan kembali ke rumahnya. Berlapis manusia sudah menanti kedatangannya. Pukul dua malam dan orang-orang rela menunggu ia yang tinggal jasad saja. Orang macam apakah dia??

Bukan ustadz, bukan pula seorang hafidz. Hanya seorang yang jujur dan amanah di tempat kerjanya, baik pada keluarga dan tetangga. Dan, yang membuatku berniat menuliskannya adalah ada senyum indah di wajahnya. Sebuah akhir hidup yang sempurna.

“Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya dan dan sebaik-baik amalku adalah pada ujung akhirnya, dan sebaik-baik hariku adalah saat aku menemuiMu.”