Ciri Wanita Penghuni Surga

IMG-20151228-WA0003

Tentunya untuk menjadi penghuni surga bukanlah perkara mudah, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengisyaratkan hal ini dalam haditsnya. Beliau bersabda,
“Bahwasanya surga itu diliputi/dipagari dengan perkara-perkara yang dibenci.”
Artinya, seseorang jika hendak masuk surga, dia harus melewati hal-hal yang bertentangan dengan hawa nafsunya, yang ia benci, yang bertentangan dengan egonya (sifat egoisnya).

Continue reading

Peranmu, Surgamu

Peran Muslimah
Berapa jumlah perempuan disebut dalam Al qur’an? Semua tercakup dari Nabi Adam sampai akhir zaman ternyata hanya 20 yang disebut secara dzahir. Dari 20 tersebut, tenyata Allah hanya menyebut 1 nama saja, yakni Maryam. 19 lainnya tak disebutkan.
Mengapa??
Karena akhlaqnya paling sempurna dan bisa jadi hanya Maryam yang terbebas dari aib. Ini bukan berarti yang lain tidak mulia, namun Allah jaga aib mereka.

Perempuan dalam Al Qur’an
Belum Menikah
Maryam, Ratu Balqis, 2 perempuan yang bertemu Nabi Musa, saudara perempuan Nabi Musa.
Sudah Menikah
Hawa, istri Nabi Nuh, istri Nabi Luth, Sarah, Hajar, Zulaikha, Asiyah, Istri Imran, Istri Zakaria, Hafsah, Aisyah, Zainab, istri Abu Lahab, Khaulah binti Tsa’labah.
Ibu
Hawa, Sarah, ibunda Musa, istri Imran, istri Zakaria, Maryam.

Seringkali kita berpikir bahwa kita bisa mendapatkan surga karena mendidik anak. Bagaimana kalau kita belum punya anak??
Hipotesis ini tidak selalu tepat. Lihat perbandingannya: dalam Al Qur’an yang terbanyak dibahas adalah peran istri (54%), lalu peran ibu (27%), dan peran muslimah (19%). Peran istri menempati porsi paling besar dalam peran perempuan yang disebutkan Allah dalam Al Qur’an. Maka kita tersadar kembali akan hadits ini, Continue reading

Cerita Tentang Rabi’ah al Adawiyah dan Suaminya

Rabi’ah al Adawiyah adalah anak dari seorang suami istri yang kaya raya tapi tidak cinta pada dunia. Hasil didikan orang tua yang tidak cinta dunia, menjadikan Rabi’ah al Adawiyah menjadi seseorang yang juga tidak cinta pada dunia. Sampai suatu hari sang ayah menikahkan Rabi’ah dengan Sulaiman ad Darimi, seorang pemuda yang tidak terlalu berpunya untuk masalah dunia sekaligus seorang ahli tasawuf.

Ada 3 pertanyaan yang diajukan oleh Rabi’ah al Ada kepada suaminya setelah akad nikah..

1. Apa yang kau inginkan dari saya?
Suaminya menjawab,
“Saya tidak menginginkan apa pun darimu kecuali setiap kali saya butuh engkau ada dan setelah itu kau tunaikan tugasmu pada Allah SWT.”
Sebelum tidur pun Rabi’ah selalu bertanya pada suaminya,
“Suamiku kau butuh aku atau tidak? Jika tidak aku akan sholat dan aku akan dzikir. Masalah dunia bukan urusanku itu adalah urusanmu karena kamu adalah ar rijalun qawammunna.”

2. Setiap orang akan dihisab oleh Allah SWT, tunjukkan pada saya bagaimana supaya hisab saya nanti ringan di hadapan Allah SWT?
Suaminya menjawab,
“Saya juga tidak tahu bagaimana cara untuk meringankan hisab. Kamu yang lebih tahu dari saya karena kamu yang lebih memiliki dunia. Aku tidak pernah memiliki dunia.”
Rabi’ah al Adawiyah berkata,
“Kalau begitu aku akan infakkan semua yang aku miliki pada Allah SWT. Apakah kamu akan ridho atau tidak? kalo kamu ridho akan aku lakukan.”
Suaminya kembali menjawab,
“Aku tidak berpikir mengenai hal itu, yang aku pikirkan adalah bagaimana apa yang kamu punya itu bermanfaat bagi diriku dan dirimu.”
Akhirnya semua hartanya di serahkan ke Baitul Maal setelah menyisakan sedikit untuk kehidupan sehari-harinya.

3. Banyak wanita yang banyak masuk neraka karena tidak mensyukuri suami. Menurut kamu wanita yang bisa mensyukuri suami itu yang seperti apa?
Suaminya menjawab,
“Lakukan tugasmu sebagai seorang istri maka itu sudah cukup untuk mensyukuri suamimu.”

Ust Sholihun

Iktikaf Bagi Wanita

Assalamua’alaikum wr wb,,,

Pengertian I’tikaf

Secara literal i’tikaf berarti “memenjarakan” sedangkan dalam terminologi syar’i i’tikaf dapat didefinisikan berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah kepada Allah yang dilakukan oleh orang tertentu dengan tata cara tertentu.

Aisyah RA, istri Nabi mengatakan bahwa Nabi SAW selalu beri’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan sehingga Allah mewafatkan beliau. Setelah itu para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau. (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ahmad)
Hadis dari Imam Bukhari sudah terjamin keshahihannya. Yang berarti seorang wanita boleh untuk melakukan i’tikaf. Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah dimana tempat i’tikaf terbaik bagi seorang wanita?

Continue reading