Zaid Kecil, Batu, dan Hujan

Penuh kekesalan, Zaid kecil berlari keluar dari ruang kelas. Lagi-lagi, akalnya tak mampu mencerna pelajaran.

Bodohkah si Zaid kecil?? Tidak. Cerdas ia. Hanya saja, beratnya beban kehidupan yang ditanggungnya telah melemahkan akalnya. Begitu sulitnya si Zaid kecil menerima pelajaran meski sepele karena ada beban di jiwanya yang belum keluar.

Dalam perjalanannya, turunlah si hujan. Ke dalam gua ia berlindung. Dalam istirahatnya, ia mendengar suara lembut tetesan air hujan menimpa sebuah batu. Dialihkan pandangnya ke arah sumber suara. Tertegunlah ia melihat pemandangan di depannya. Sebuah batu yang berlubang karena tetesan air hujan yang lembut, tipis, konsisten.

Hikmah Allah, Zaid kecil merenungkannya,
“Kalo bukan karena kuasa Allah, tak mungkin si hujan kecil mampu melubangi si batu keras.”

Lalu, kembalilah ia ke madrasah menemui gurunya. Menceritakan segala yang ia lihat.

Tahu apa jawab gurunya, Nak??
“Sebuah batu pun jika terus menerus terkena tetesan air hujan bisa berlubang juga.”
Begitu??
Bukan Nak. Belajarlah melihat lebih dalam ke arah hakikat, bukan hanya yang tampak.
“Perhatikan, air saja yang cuma menetes karena ia ingin patuh kepada Allah, mampu menjadikan batu yang keras luar biasa itu bisa berlubang. Apalagi kalo kamu mau patuh pada ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wattaqullah wayu’alimukumullah.”

Begitu terkuak rahasianya, cepatlah Zaid kecil menangkap pelajaran. Hingga, jadilah sebuah buku 18 jilid, Fathul Bari, syarah kitab Shahih Bukhari.

Itulah Nak, salah satu esensi taqwa..

~ hujan berhenti, ayo pulang..Blui-chan..

“Ibu, Allah Dimana??”

Sebuah cincin dilempar ke sebuah gurun pasir nan luas. Itulah, perbandingan bumi dengan langit pertama.

Sebuah cincin dilempar ke sebuah gurun pasir nan luas. Itulah, perbandingan bumi dan langit pertama dengan langit kedua.

Sebuah cincin dilempar ke sebuah gurun pasir nan luas. Itulah, perbandingan bumi, langit pertama, dan langit kedua dengan langit ketiga.

Sebuah cincin dilempar ke sebuah gurun pasir nan luas. Itulah, perbandingan bumi, langit pertama, langit kedua, dan langit ketiga dengan langit keempat.

Sebuah cincin dilempar ke sebuah gurun pasir nan luas. Itulah, perbandingan bumi, langit pertama, langit kedua, langit ketiga, dan langit keempat dengan langit kelima.

Sebuah cincin dilempar ke sebuah gurun pasir nan luas. Itulah, perbandingan bumi, langit pertama, langit kedua, langit ketiga, langit keempat, dan langit kelima dengan langit keenam.

Sebuah cincin dilempar ke sebuah gurun pasir nan luas. Itulah, perbandingan bumi, langit pertama, langit kedua, langit ketiga, langit keempat, langit kelima, dan langit keenam dengan langit ketujuh.

Diatas langit ketujuh akan ada Sidratul Muntaha. Gabungan antara bumi dan seluruh langit dibanding dengan Sidratul Muntaha, seperti cincin yang dilempar ke sebuah padang pasir nan luas.

Diatas Sidratul Muntaha ada lautan yang jika dibanding dengan gabungan bumi, seluruh langit, dan sidratul muntaha, seperti cincin yang dilempar ke sebuah padang pasir nan luas.

Terbayangkah, Nak.
Kita, hanya seperti setitik debu di dasar lautan.

Ayat kursi, sudah hapal kan..
“wasi’a kursiyuhus samawati wal ard”
Kursiy itu, pijakan kaki raja di singgasana.
Seberapa besar pijakan kaki Sang Raja??
Sepenuh langit dan bumi dan segala yang ada di bawahnya.

Dan disanalah, di atas ‘Arsy, Allah bersemayam.

Allah, besar sekali kan Nak.
Maka, di dalam hatimu yang suci itu, besarkan Rabb-mu. Biarkan Allah memenuhi ruang hatimu. KebesaranNya akan mengecilkan yang lainnya. Hingga kau pun mampu, untuk selalu berjalan dengan kokoh, dengan tenang melintasi permukaan bumi.
Jagalah Allah, maka dimana pun kau berada, Allah akan selalu ada. Menjagamu, melindungimu.

Karena orang tuamu, tak bisa selalu berada di sisimu…

= L Room =

On Children

Your children are not your children
They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.

You may give them your love but not your thoughts,
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls,
For they souls dwell in the house of tomorrow,
which you cannot visit, even in your dreams.
You may strive to be like them,
but seek not to make them like you.
For life goes not backward nor tarries with yesterday.

You are the bows from which your children
as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite,
and He bends you with His might
that His arrows may go swift and far.
Let your bending in the archer’s hand be for gladness;
For even as He loves the arrow that flies,
so He love also the bow that is stable.

.: Khalil Gibran, The Prophet :.

“Mari, menaklukkan Roma..”
Dengan apa??
“Akhlak, prestasi, dan ilmu”
Ajarkan itu, pada anakmu…

Berjalanlah, Nak..

Tutup sebentar bukumu, Nak. Mari, sebentar berjalan. Melihat realitas sekitar. Tak semua kisah kehidupan bisa ditemukan dalam sebuah buku, kan..

Berjalanlah, Nak. Masuki los-los pasar di tengah megahnya pusat perbelanjaan. Ciumlah bau tanah basah, aroma rempah, amisnya ikan. Lihatlah, ekspresi wajah-wajah yang saling bertawar barang. Tangkap rasanya di hatimu dan simpan.

Berjalanlah, Nak. Langkahkan kakimu, pelan saja, di sepanjang trotoar kota. Akan kau temukan, anak-anak bergitar menegapkan badan, menyembunyikan keringkihan, menantang kerasnya jalanan. Lihatlah, wajah-wajah mereka. Tangkap rasanya di hatimu dan simpan.

Berjalanlah, Nak. Agak pagi. Di belokan jalan, di bawah fly over arah tol persimpangan. Ada sebuah gerobak berisi anak yang sedang tertidur. Amati wajahnya. Adakah terlihat ekspresi kedamaian disana?? atau sebuah kerutan di dahinya?? tangkap rasanya di hatimu dan simpan.

Continue reading

Ibu dan Pertanyaannya

“Kosnya deket masjid gak Dek??”
Demikian pertanyaan Ibu setiap kali dapat kos baru. Pertanyaan pertama bahkan sebelum mengajukan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Tak pernah tanya kenapa, tapi hanya menduga-duga.
Mungkin, agar suara azan pengingat sholat itu menyadarkan anaknya yang kerap lalai dengan akhirat..
Mungkin, agar anaknya senang ke masjid..
Mungkin, agar anaknya dekat dengan masjid..
Mungkin, entah…

Yang pasti, darinya aku belajar. Untuk mereka kelak,
“Jadilah pelayan di rumahNya..”
Bukan hanya kos yang dekat dengan masjid, tapi tinggal lah di dalamnya dan benar-benar menjadi pelayanNya..

Actually, just want to say,
“I love you, Mom..”
And,
“Thanks Lord for everything..”

Agar Kutuai Kesholihan Buah Hatiku

Sesungguhnya nikmat Allah tak terhingga. Dan, diantara nikmat yang paling mulia adalah nikmat keturunan atau anak. Tidak ada yang mengetahui keagungan nikmat ini kecuali orang-orang yang terhalang mendapatkannya. Anak juga merupakan amanah bagi kedua orang tua yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Apakah ia menunaikan hak-hak mereka atau melalaikannya?? Allah Ta’ala berfirman,
“Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” [66:6]

Kesholihan dan kesuksesan seorang anak adalah dambaan setiap orang tua. Namun, tentu saja butuh kerja keras dalam mewujudkannya. Untuk setiap ayah dan ibu, ada beberapa poin yang harus diperhatikan dalam mendidik anak:

Continue reading

Yang Terpenting dalam Mendidik Anak, Apa..??

Setiap kali “dugem” dan materinya tentang parenting yang biasanya didapat dari hasil browsing, saya selalu melihat reaksi Mbak-Mbak yang sudah berpengalaman dengan yang namanya mengasuh anak. Terkadang ketika diceritakan satu dua poin tips-tips apapun tentang mendidik anak, ada satu dua yang tertawa kecil membayangkan apa yang selama ini sudah mereka jalani dengan yang disebutkan dalam teori. Lalu, di akhir materi, ketika acara diskusi, mereka akan menceritakan pengalaman masing-masing yang kembali menyadarkan bahwa teori hanyalah sebuah pegangan. Praktek yang menentukan. Dan selalu, penerapan teori tak semudah menghapal dan memahami isinya.

Seorang kawan yang terkenal sangat sabar pun pernah bercerita bagaimana beliau harus sering-sering beristighfar ketika berurusan dengan anaknya. Dari melihat Mbak-Mbak ketika sedang mengatasi anak-anak mereka yang terkadang terlampau kreatif dan aktif pun, saya sering merasa ada perbedaan antara yang seharusnya dilakukan dengan kejadian di lapangan (meski tak semua teori dapat diaplikasikan pada tiap anak. Bagaimanapun teori hanya generalisasi sedangkan setiap anak itu unik, mungkin memang perlu tindakan yang berbeda dengan teori yang ada..wallahu’alam).

Continue reading

Nak, Yuk Sholat [3]

Usia 7-10 tahun
~ Pada saat anak menginjak usia 7 tahun, katakan padanya, bahwa mereka memasuki usia yang istimewa, yaitu usia diperintahkan sholat. Bila perlu berikan mereka hadiah berupa baju sholat, mukena, dan sajadah.
~ Menghindari kalimat tanya seperti,
“Apakah kamu sudah sholat?”
Karena dapat membuka peluang untuk berbohong. Sebaliknya, gunakan kalimat yang tegas dan mengingatkan seperti,
“Waktunya sholat, Nak”
atau
“Ibu menunggumu sholat ya Nak, sebelum habis waktunya”
~ Sering-seringlah menyemangati dengan mengatakan,
“Ayah Ibu bangga sekali Nak, jika kamu rajin sholat.”
Tampakkan kepada mereka bahwa kebahagiaan dan kebanggaan terbesar mereka adalah ketika mereka rajin mengerjakan sholat dan maafkanlah kesalahan kecil mereka ketika mereka mudah disuruh mengerjakan sholat.
~ Mengajak mereka untuk sholat berjama’ah karena itu akan lebih menyemangati mereka, terutama untuk anak laki-laki karena tabiat mereka senang keluar rumah dan bertemu teman-temannya. Maka, ajaklah mereka sholat berjama’ah di masjid.
~ Pada usia ini, dapat diajarkan hukum-hukum bersuci secara lebih detail, sifat sholat, dan wudhu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, doa-doa dan dzikir dalam sholat dan mulai merutinkan mereka sholat 5 kali sehari. Walaupun tidak harus di awal waktu.
~ Setelah mereka terbiasa mengerjakan sholat 5 waktu, ajarkanlah mereka untuk segera sholat begitu mendengar azan.

Continue reading

Nak, Yuk Sholat [2]

Setelah kita menyadari mengapa kita harus bersabar dan istiqamah dalam mendidik anak mengerjakan sholat, kali ini kita akan membahas bagaimana cara mengajarkan sholat kepada anak secara bertahap. Satu hal yang harus selalu kita ingat ketika mendidik anak untuk sholat adalah, bahwa tujuan kita adalah membuatnya mencintai sholat dan merasa butuh kepadanya. Karena itu selayaknya kita memilih cara-cara yang baik dan penuh hikmah ketika mengajarkan mereka sholat.
Allah Ta’ala berfirman,
“Dan serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” [16:125]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan akan memperburuknya.” [HR Muslim 4698, versi Syarah Muslim 2594]

Continue reading