[Ramadhan 1438 H] Nabi Yusuf dan Ramadhan

Imam Ibnu Jauzi menyampaikan bahwa,

Ramadhan terhadap bulan-bulan yang lain sebagaimana Nabi Ya’qub dengan anak-anaknya. Nabi Ya’qub mempunyai 12 anak, jumlah bilangan bulan 12 pula. Sebagaimana Nabi Yusuf adalah anak yang paling istimewa, begitu pula dengan Ramadhan. Sebagaimana Allah mengampuni dosa seluruh anak-anak Ya’qub hanya karena do’a Nabi Yusuf, maka begitu pula Ramadhan. Dengan satu bulan tersebut, terampunilah dosa di 11 bulan yang lain.

Sebagaimana Allah paling menyukai sebuah bejana yang paling bening dan bersih, begitu pula hati yang disukai Allah.

🙂 Mohon maaf lahir batin jika ada kesalahan dalam bertulis 🙂

|| purifying the heart ~ welcoming ramadhan ~ pursuing lailatul qadr ||

~ L-Room, ketika semua sudah mudik pulang dan hanya tersisa 2 orang di ruangan..

Darimana Manusia Belajar Menjadi Manusia??

“Manusia perlu belajar menjadi manusia dulu sebelum belajar tentang AGAMA…”

Itu, sepotong awal dari sebuah share status panjang seorang kawan. Sebuah quote dari seorang filsuf Barat, sepertinya. Kelanjutannya apa, saya sudah lupa. Karena terlanjur perih membaca awal kalimatnya. Saat itu hanya terlintas tanya,
“Darimana manusia belajar menjadi seorang manusia??”

Ar Rahman: 2-3.
Penyebutan tentang pengajaran al Qur’an, Allah dahulukan dibandingkan dengan penciptaan manusia. Kenapa??

Dalam Zhilal-nya, Sayyid Qutb menerangkan. Nilai-nilai dari Al Qur’an itulah yang mengisi manusia hingga manusia bisa menjalankan fungsinya sebagai khalifah. Itulah kenapa, nikmat tertinggi yang disebutkan pertama adalah pengajaran Al Qur’an bukan penciptaan manusia. Tanpa nilai-nilai dari Al Qur’an, manusia hanya sepotong daging yang berjalan di atas tanah. Dan Al Qur’an, adalah bagian dari agama.

Wallahu’alam..

Fafiruu Ilallah..

Jika memang tidak sedang baik-baik saja, bilang saja tidak sedang baik-baik saja.
“Pada siapa??”
Pada yang Maha Kuasa

Berpura-pura baik-baik saja dan mengendapkannya, pada akhirnya hanya akan menjadi racun semata.

Sujudlah padaNya, merunduk, tunduk. Meminta maaf, bercerita, merengek, mengeluh, meminta. Apa saja. Keluarkan semua yang menyesak dalam dada.

Allah pun suka. Allah pun gembira ketika ada hamba yang kembali padaNya. Allah pun mendengar, semua. Allah pun menjawab, satu persatu. Meski terkadang, Ia tunda sebentar karena Ia suka pada indah rengekannya.

Karena begitulah, manusia memang sengaja diciptakan dengan pandangan sektoralnya. Keintegralan hanya milikNya.
Karena begitulah, urusan kehidupan sengaja diciptakan bukan untuk diselesaikan, tapi untuk membuat manusia terduduk pasrah, menyerah pada Al Jabbar.

Mengangkat tangan, memohon, mengetuk, dan mengembalikan segala urusan padaNya..

Cukuplah ketika tahu bahwa, Allah suka. Allah suka pada mereka yang kembali padaNya.
Cukuplah ketika tahu bahwa, Allah suka. Karena yang sejatinya dicari adalah cintaNya.
Cukuplah ketika tahu bahwa, Allah suka. Maka Allah akan memberikan apapun yang diminta selama itu baik bagi hambaNya..

Ruh Ilahiah~Balance~Jasad Tanah

Kalau hanya ingin meninggikan ruh ilahi hingga mencapai langit tanpa mempedulikan jasad tanah itu mudah. Hanya tinggal hidup menyendiri, lalu silakan memfokuskan diri untuk melakukan ibadah mahdhoh. Sholat, puasa, berdzikir.

Kalau hanya ingin memenuhi keinginan jasad tanah tanpa mempedulikan ruh ilahiah itu mudah. Silakan mencicipi aneka ragam kesenangan yang disukai jasad tanah.

Sayangnya, allah-al qur’an-iman-islam selalu menghendaki terjadinya keseimbangan. Sebagaimana telah Allah sebutkan nama-namaNya yang saling menyeimbangkan di awal surah Jumu’ah. Al Malik-Al Qudus-Al ‘Aziz-Al Hakiim.

Al Malik dan Al ‘Aziz, membuat hambaNya harus bersikap khauf.
Al Qudus dan Al Hakiim, membuat hambaNya bersikap roja’.
Ada jarak, ada kedekatan diantara nama-namaNya. Keduanya, tidak bisa berdiri sendiri. Keduanya, harus ada. Seimbang.

Begitu pula, antara ruh ilahi dan jasad tanah. Dua unsur dalam tubuh manusia ini harus berjalan seimbang. Dan ini, tidak mudah. Menjaga agar ruh ilahi bisa terbang mencapai langit dan jasah tanah tetap menjejak bumi. Akan ada saling tarik ulur diantara keduanya.

Tapi, ‘ajruki ‘alaa nashobik…
Allah tahu seberapa jauh usaha. Cukup, terus saja memberikan yang terbaik yang dibisa. Allah tahu, selalu tahu. Semoga Allah kuatkan, dengan bantuanNya..

= L Room =

Ibu dan Semester 3

Bandung. Semester 3.
Masa paling down sepanjang sejarah perkuliahan. Full sks, organisasi, kepanitiaan. Itu, sama dengan semester-semester sebelumnya. Hanya, manusia tak pernah menduga skenario seperti apa yang akan Ia berikan padanya. Seorang kawan meminta untuk ikut bantu-bantu di bisnis yang akan dirintisnya. Fix. Jadilah pembantunya.

Waktu berjalan.
Blank akut. Terduduk lemas di depan kelas. Sebegitu banyak amanah. Kuliah, amanah orang tua, yang harusnya jadi prioritas utama terbalik menjadi prioritas akhir.

Ajaibnya.
Ibu, yang biasanya hanya menelepon sebulan sekali memberi kabar uang jajan sudah tertransfer, pada masa itu menjadi intens sekali menelepon. Hampir tiap hari malah. Padahal, tak pernah ada cerita curhatan hati pada Ibu. Walhasil, tiap kali Ibu menelepon, tiap kali pula harus menahan suara agar tertampak baik-baik saja.

Saat itulah, muncul pertanyaan,
“Kenapa bisa seperti itu?? Bisakah beliau merasakan perasaanku??”

Tentu saja. Ketika melahirkan bukankah mitokondria Ibu terbawa ke dalam tubuh. Perasaan Ibu pada anaknya, seperti perasaan Ibu pada dirinya sendiri. Perasaan anaknya, akan menjadi perasaannya juga. Maka, jaga baik-baik perasaanmu. Karena Ibu tahu..

~ hanya sedang merindukan Ibu…

Big Big Bro & Little Bro

Dari dulu paling suka mengira-ira, kalo Big Big Bro dan Little Bro masih ada di dunia ini, kira-kira, apa yang akan terjadi??

Ini kemungkinannya:
1- Bakalan jadi anak nomor 3. Punya kakak, punya adek. Asik, kan. Kena semua rasanya.
2- Jadi anak cewek sendiri diantara 3 anak cowok. Obsesi dari dulu kan, punya banyak kakak laki-laki.
3- Bakalan ada si Big Big Bro yang bisa lebih ngemong dibanding si Big Bro. Paling gak ada yang ngajakin beli mie ayam malam-malam di deket terminal Daleman. Kayak si Mas, adeknya Ibu.
4- Ada si Little Bro yang bisa jadi sasaran jitak dan sasaran pengusilan.

Tapi akhir-akhir ini, terpikirkan satu lagi:
Mungkin, akan ada salah satu dari mereka yang stand by, benar-benar stand by di samping Ibu Bapak. Mengatakan “ya” untuk setiap perintah mereka. Melayani apapun ingin mereka. Membantu meringankan beban harian mereka yang sebegitu banyaknya yang berbanding terbalik dengan kondisi fisik mereka yang terus menurun.

Tapi, Allah sudah jadikan mereka jalan surga buat Ibu Bapak. Pemberian mereka untuk Ibu Bapak lebih hebat, kan. Tinggal tugas anak-anak yang masih ada untuk menjaga mereka. Meski kadang, manusia tak pernah benar-benar mengira, dimana Dia akan menempatkannya.

Yang pasti,
Allah, ada dimana diri berada
Allah, ada dimana Ibu Bapak berada
Allah, perantara langsung antara diri dengan mereka
Allah-lah hulu semua. Jika semua mengarahkan pandang ke sana, kokohlah semua.

Kita, berada di kerajaan yang sama. Raja kita sama. Tinggal mendekatiNya, dan Ia akan berikan apa yang kita pinta. Penjagaan abadiNya untuk mereka berdua. Penjagaan abadiNya untuk anak-anak mereka. Doa timbal balik yang tak akan pernah sama besarnya. Karena kekuatan doa Ibu, selalu yang terbesar.

Bakti yang akan terus akan ada sampai akhir hayat.


Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran

Bahagia atau Berkah..??

Bekasi, bertahun lalu.
“Yang dicari manusia di dunia ini apa lagi kalo bukan kebahagiaan. Ya kan, Dek?” tanya si Mbak tetiba.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Menyisakan sebuah ruang di hati untuk sebuah tanya,
“Benarkah??”

Yogya, 2014. Kuliah hari terakhir, beberapa hari sebelum ramadhan datang.
“Mungkin bukan hidup yang paling bahagia, melainkan hidup yang paling berkah.”

Sebuah kalimat dari ustadz Salim yang kutulis di trotoar jalan dengan rentetan kalimat lainnya. Pencegah hati agar tak pecah. Sebuah kalimat yang tak begitu ku mengerti maknanya. Kala itu.
Bukankah bahagia adalah hasil dari keberkahan??
Bukankah jika kita ambil keberkahan, akan ada bahagia disana??

Continue reading

Parameter Sukses Itu…

Tahu kenapa profit bisa menjadi sebuah parameter yang keliru dalam menentukan kesuksesan sebuah produk??
Karena target profit tiap perusahaan tidaklah sama. Ada perbandingan relatif antara produk sukses dan tujuan perusahaan. Produk A yang profitnya lebih tinggi dari produk B, belum tentu dikatakan produknya sukses oleh perusahaan karena target profit yang diinginkan belum tercapai. Produk C yang profitnya lebih rendah dari produk D, belum tentu target suksesnya belum tercapai. Meski profit adalah sebuah alat yang handal untuk mengukur suksesnya sebuah produk, tetap, masih ada bias disana jika ingin menjadikan profit sebagai perbandingan kesuksesan antar produk.

Ada orang-orang yang cukup dengan melayani orang lain dan melihat binar kebahagiaan di mata mereka hingga mereka bisa tersenyum puas.
“Inilah kesuksesan.” kata mereka
Ada orang-orang yang harus mencapai sebuah kedudukan tertentu untuk kemudian bisa berkata,
“Ahh yaa, inilah yang selama ini aku inginkan.”

Ada yang ingin sesukses Kisra Raja Persia, ada pula yang ingin sesukses Rasulullah..

Terlalu bias jika membandingkan sesuatu yang tampak karena kita tak tahu apa yang menjadi patokan tiap orang untuk mencapai suksesnya, kan.

Anasir Dunia Itu…

Harta, kedudukan, prestise, pandangan manusia, dan 1001 anasir dunia lainnya. Jika sedemikian memberatkan kenapa masih di bawa juga??
Bukankah semua akan lebih ringan jika ditinggalkan. Ini semua, tidak relevan dengan seluruh perjalanan menuju tujuan.

Jikalau, dunia ini hanyalah sebuah permainan. Kita tinggal menjadikan dunia itu sebuah bola baseball, pukul sejauh-jauhnya and…yess, home run..!!
Lepaskan bat di tangan. Lalu, berlarilah sekuatnya menuju base. Skor pun tercetak di akhir. Banyak.
Bukankah begitu, seharusnya??

Jika kita terlahir sebagai seorang budak, mempunyai 1 tuan itu lebih menyenangkan. Tak perlu dibuat bingung dengan tuan-tuan yang lain. Cukup berpaling ke sang tuan dan melihat reaksi yang akan ia berikan. Anggukan atau gelengan. Melangkah atau berhenti.
Reaksi yang lain, irrelevant.
Bukankah begitu, seharusnya??

Lalu, kenapa masih harus memberatkan langkah dengan kesemuanya??
Lepaskan, murnikan, sucikan. Untuk Allah saja, semuanya…
Bisa??

“Obey Allah. Live your life. Love yourself. Love others. If people don’t like it, oh well. Just keep going.”

 

Dua idealisme berlawanan jalan, dalam satu diri. Pada akhirnya, harus dipilih salah satu kan. Yang paling menenangkan, yang paling diridhoiNya.

Yang mana??
Tanyakan padaNya…
Karena Dia tahu, mana yang masih banyak terkandung anasir dunia di dalamnya.
Karena Dia tahu, kebaikan yang ada di depan sana.

Karena Dia pun kuasa, untuk membuatmu mampu mengiringkan keduanya.

Tradeoff kehidupan…