Padang Mbulan di Malam Minggu

Padang mbulan, cahayanya menerangi lapangan belakang rumah. Gawang sepakbola bercat putih di sebelah selatan lapangan menjadi sarang betengan 6 anak sekolahan yang merayakan malam minggu sebagai malam kebebasan. Plang sebelah timur menjadi benteng 3 anak perempuan, plang sebelah barat menjadi benteng 3 anak laki-laki.

-xxx-

“Neri, kamu lari duluan. Trus Dek Nuri. Aku jaga benteng.” Kiki memberi komando
Se-pa-kat…!!

Continue reading

Advertisements
By Isnaini Posted in Story

Kontrak

Jam istirahat
Office senyap. Sebagian besar penduduk ruangan berbentuk persegi besar bertembok tebal tanpa jendela ini keluar. Marathon dari kantin ke mushola yang kesemuanya masih berada di dalam pabrik. Hanya ada beberapa GM dan pekerja ekspatriat yang asyik berkutat dengan laptop masing-masing. Tak semua lampu dinyalakan. Peraturan perusahaan yang sudah menjadi kebiasaan. Matikan listrik jika tidak digunakan.

“Sendirian, Dek..” sapanya riang. Si Mbak dengan wajah yang selalu penuh senyum dari divisi sebelah berjalan dengan langkah lebar dan ringan menuju ke arahku.

Aku memalingkan wajah dari layar komputer ke sumber suara.

“Iya Mbak. Lho Mbak, katanya Mbak terseret arus demo keluar??” tanyaku heran
“Bukan terseret. Emang sengaja ikut demo bareng mereka. Ini balik duluan.” jawabnya sembari menggeser kursi di sebelahku dan mendudukinya
“Eh,…” ceplosku, kebiasaan
“Masak mereka udah kepanasan di luar sana memperjuangkan hak-hak kita, kita malah enak-enak duduk di dalem ruang yang sejuk kayak gini. Toh kalo tuntutan mereka agar UMR naik disetujui, kita juga dapet senengnya kan..” lanjutnya

Continue reading

By Isnaini Posted in Story

Cakrawala Malam

Kakinya satu persatu menapak tangga. Sampai diatas rooftop ia duduk. Kakinya bersila, ia letakkan kedua tangannya ke belakang. Menjadi penyangga tubuhnya. Kepalanya mendongak. Mulai menatap cakrawala malam yang tak berbatas. Aku mengikuti dari belakang dan duduk bersila di sebelahnya.

“Dengarkah kau suara semesta??” ia mulai bersuara.

“Eh…” aku menoleh melihat wajahnya yang tenang menatap angkasa.

Continue reading

By Isnaini Posted in Story

Dari Klaten ke Ponorogo Lalu Jombang

“Klaten masih tergolong mudah Mbak. Jalan sudah beraspal jadi perjalanan menuju SD nya pun tak terlalu susah.” kata Mas videogafer selesai men-shoot testimoni Bapak Kepala Sekolah. Tangannya masih mengutak-utik kamera di atas tripodnya.

Aku yang berencana segera kembali ke basecamp, urung melakukannya.

“Iya ya Mas. Fasilitas SD nya pun sudah tergolong bagus.” sambungku.

“Yang paling mengerikan itu di Ponorogo Mbak. Jalan ke SD masih berbatu. Aspal hanya di jalan bawah. Selebihnya ya itu, tanah sama batu thok.” lanjutnya. Jam terbang beliau sebagai relawan memang sudah termasuk tinggi. Beberapa daerah mungkin sudah beliau kunjungi.

“Dari jalan berbatu ke sekolah kira-kira berapa jam itu Mas?” tanyaku penasaran.

Continue reading

By Isnaini Posted in Story

[Catatan Jalanan] Seorang Pejuang

Aku kembali melihatnya, sekilas. Masih dengan tas selempang hitam kumal yang sama. Kali ini biru warna bajunya. Ekspresi wajahnya, entahlah. Aku berkendara cepat tak terlalu bisa memperhatikannya.
Ini sebuah cerita yang harusnya kutuliskan dahulu kala ketika aku pertama kali melihatnya. Pemberhentian lampu merah di daerah giwangan, aku berada di nomor sekian barisan. Pikiranku sedang tidak di jalanan tempatku berada. Tiba-tiba muncul lah ia, memutar kemudi kursi rodanya. Baju, topi, dan tas hitam kumal berisikan koran. Kakinya jauh dari normal.
Seorang wanita di barisan pertama memanggilnya dan memesan korannya. Lancar, si penjual koran itu mengalihkan kursi rodanya, memenuhi pesanan. Diberikannya selembar koran dan diterimanya sejumlah uang.
Masih di barisan nomor sekian, aku melihat setiap kejadian. Dan sedikit ber azzam, harus menyediakan uang di kantong saku jaket setiap melakukan perjalanan. Karena aku tak tahu, apakah Allah akan memberiku kesempatan untuk memberikan sedikit penghargaan untuk si bapak penjual koran yang tangguh berjuang di kerasnya jalanan.

By Isnaini Posted in Story

Anak Hujan

Hujan masih belum lelah turun sedari pagi..
Dia sodokkan tombak kayu itu, mencoba mengenai sasaran. Tiap kali belum berhasil, ia coba lagi. Seorang lagi disampingnya, kedua tangannya menangkup keatas. Matanya awas menatap ujung tombak, raut mukanya serius. Ada seorang lagi, tapi entah apa yang dilakukannya. Pandanganku tertutup daun jendela.
Srakk…
Sebuah belimbing kuning berhasil ‘ditembak’. Mereka serentak bersorak.

Sebelumnya, suara langkah-langkah kecil itu terdengar memasuki pagar. Tak lama kemudian terdengar teriakan,
“Budhe, nyuwun belimbing’e nggih Budhe..”
Bersahutan, satu persatu meminta ijin si empunya belimbing. Sahutannya tidak akan berhenti, sampai mereka mendengar jawaban dari dalam,
“Yo, mundhuto”

“Matur nuwun Budheee. Ayo cahhh…”
Suara terima kasih mereka terseret udara karena mereka menjawab sambil berlari keluar. Memulai misi mereka. Mencari belimbing masak…

Belimbing kuning itu sudah ditangan mereka. Sambil tertawa mereka gerogoti setiap tangan buah itu. Itu pun tak bertahan lama, sejurus kemudian mereka lemparkan ke yang lain..
Iyapp…perang belimbing pun dimulai..

Sambil melempar mereka terus berjalan, menelusuri sepanjang sungai. Tertawa, mengaduh, sambil sesekali terdengar suara
“Byurr…”
Tak hanya perang belimbing, perang di sungai pun mereka jabani..
Alamakk..pengen… :mrgreen:

Aku kembali menghadap ke netbook. Mencecap sedikit aroma hujan. Tersenyum dan mulai menuliskan apa yang dilihat..
Ya ya ya…keceriaan anak-anak desa itu sederhana. Dan aku bersyukur pernah mengalaminya… 🙂

May Allah keeps their smiles…

By Isnaini Posted in Story

Kisah Kecil dari Boyong

Rabu, 24 september 2014, untuk pertama kali mengikuti kajian ibu-ibu di boyong. Pengisinya adalah rekan seperjuangan, seorang akhwat yang berumur 2 tahun lebih muda dari saya. Isi kajian sangat cocok untuk ibu-ibu di desa, menutup aib saudara. Tapi bukan tentang itu saya mau bercerita.
Di sela-sela kajian tersebut beliau menyelipkan sedikit kisah yang belum lama beliau alami. Saat itu beliau dalam kondisi kesulitan finansial. Ada hutang sebanyak 26 juta yang harus beliau lunasi. Dalam kondisi tersebut beliau masih berusaha untuk memberikan infak sedekah setiap kali ada rejeki. Hingga suatu hari beliau meminta pinjaman kepada dosen beliau sebanyak 5 juta. Ibu dosen meminta waktu untuk berkompromi dulu dengan suaminya. Dan malamnya ibu dosen menelepon beliau menanyakan nomor rekening untuk mentransfer uangnya. Ketika beliau menanyakan pengembalian uang mau berangsur tiap bulan atau ditunda dulu beberapa bulan sampai uang terkumpul ibu dosen cuma bilang
“sudah, itu uangnya buat kamu saja.”
Masya allah, pertolonganNya.
Kisah kedua, ketika beliau dalam perjalanan pulang ke rumahnya di purworejo, beliau mampir atm mengambil uang untuk kedua orang tuanya. Tiba-tiba ada yayasan anak yatim datang meminta sumbangan. Sempat ragu beliau untuk memberikan sedekah karena itu uang yang akan beliau gunakan untuk orang tua beliau tapi akhirnya disisihkan juga sebagian uangnya untuk yayasan anak yatim tersebut. Di tengah jalan pulang beliau terjatuh dari motor dan dalam kondisi ada sebuah motor atau mobil yang siap menabrak beliau. Beliau hanya bisa pasrah karena memang posisinya tidak memungkinkan untuk menghindar. Tapi Allah mampu berbuat apapun untuk menolong hambaNya. Entah bagaimana beliau sendiri juga bingung karena tiba-tiba sudah berada di pinggir jalan. Satu pujian lagi untukMu, ya Allah..

Akan selalu ada keajaiban bagi mereka yang selalu percaya padaMu, iya kan Allah 🙂

~live report from boyong village, sebuah dusun kecil di lereng merapi

By Isnaini Posted in Story

A Smiling Mask

Kutunggu dia sampai agak jauh dari pandangan. Tak lupa kuselipkan doa semoga Allah selalu memberikan hidayah dan kekuatan padanya. Motor kembali ku geber meninggalkan stasiun tugu. Waktunya pulang.

Beberapa jam sebelumnya..

Continue reading

By Isnaini Posted in Story

Summer in Samben

“Udah 2 bulan gak hujan niki mbak” kata salah seorang tetangga yang datang ke rumahku.
“Owh pantes halaman rumah gak muncul lumutnya” sahutku

Wew, ternyata di desaku sedang musim panas. Summer kalo kata wong londo. Tapi jangan bayangkan panasnya kayak J-Town ya (red:Jakarta). Sepanas-panasnya Samben, udaranya masih tetep seger. Angin masih bertiup kencang. Apalagi kalo pagi. Brr,,adem. Kebiasaan tiap kali di rumah adalah jalan-jalan pagi sama si emak. Whuih,,kalian bisa liat pemandangan yang mengagumkan kalo pagi hari. Kalo mengambil rute ke Timur, kalian bisa melihat gunung Putri Tidur. Entahlah apa nama sebenarnya gunung tersebut. Tapi dulu pas masih kecil teman-teman pada bilang namanya Gunung Putri Tidur karena bentuknya memang mirip seorang wanita yang lagi tidur. Jalanannya lurus dan mulus, di kanan kirinya full of sawah. Jangan bayangkan sawah yang menghijau ya, karena sudah musim panen jadi padi sudah mulai menguning. Musim panas identik dengan pohon yang meranggas. Kalian bisa melihat perpaduan yang sempurna antara gunung, matahari terbit, dan sebatang pohon yang meranggas tertata apik. Sayang gak ada kamera DSLR jadi gak bisa diambil gambarnya. Cukuplah saya ingat di memori saya 😀 Continue reading

By Isnaini Posted in Story