Big Big Bro & Little Bro

Dari dulu paling suka mengira-ira, kalo Big Big Bro dan Little Bro masih ada di dunia ini, kira-kira, apa yang akan terjadi??

Ini kemungkinannya:
1- Bakalan jadi anak nomor 3. Punya kakak, punya adek. Asik, kan. Kena semua rasanya.
2- Jadi anak cewek sendiri diantara 3 anak cowok. Obsesi dari dulu kan, punya banyak kakak laki-laki.
3- Bakalan ada si Big Big Bro yang bisa lebih ngemong dibanding si Big Bro. Paling gak ada yang ngajakin beli mie ayam malam-malam di deket terminal Daleman. Kayak si Mas, adeknya Ibu.
4- Ada si Little Bro yang bisa jadi sasaran jitak dan sasaran pengusilan.

Tapi akhir-akhir ini, terpikirkan satu lagi:
Mungkin, akan ada salah satu dari mereka yang stand by, benar-benar stand by di samping Ibu Bapak. Mengatakan “ya” untuk setiap perintah mereka. Melayani apapun ingin mereka. Membantu meringankan beban harian mereka yang sebegitu banyaknya yang berbanding terbalik dengan kondisi fisik mereka yang terus menurun.

Tapi, Allah sudah jadikan mereka jalan surga buat Ibu Bapak. Pemberian mereka untuk Ibu Bapak lebih hebat, kan. Tinggal tugas anak-anak yang masih ada untuk menjaga mereka. Meski kadang, manusia tak pernah benar-benar mengira, dimana Dia akan menempatkannya.

Yang pasti,
Allah, ada dimana diri berada
Allah, ada dimana Ibu Bapak berada
Allah, perantara langsung antara diri dengan mereka
Allah-lah hulu semua. Jika semua mengarahkan pandang ke sana, kokohlah semua.

Kita, berada di kerajaan yang sama. Raja kita sama. Tinggal mendekatiNya, dan Ia akan berikan apa yang kita pinta. Penjagaan abadiNya untuk mereka berdua. Penjagaan abadiNya untuk anak-anak mereka. Doa timbal balik yang tak akan pernah sama besarnya. Karena kekuatan doa Ibu, selalu yang terbesar.

Bakti yang akan terus akan ada sampai akhir hayat.


Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran

Bahagia atau Berkah..??

Bekasi, bertahun lalu.
“Yang dicari manusia di dunia ini apa lagi kalo bukan kebahagiaan. Ya kan, Dek?” tanya si Mbak tetiba.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Menyisakan sebuah ruang di hati untuk sebuah tanya,
“Benarkah??”

Yogya, 2014. Kuliah hari terakhir, beberapa hari sebelum ramadhan datang.
“Mungkin bukan hidup yang paling bahagia, melainkan hidup yang paling berkah.”

Sebuah kalimat dari ustadz Salim yang kutulis di trotoar jalan dengan rentetan kalimat lainnya. Pencegah hati agar tak pecah. Sebuah kalimat yang tak begitu ku mengerti maknanya. Kala itu.
Bukankah bahagia adalah hasil dari keberkahan??
Bukankah jika kita ambil keberkahan, akan ada bahagia disana??

Continue reading

Parameter Sukses Itu…

Tahu kenapa profit bisa menjadi sebuah parameter yang keliru dalam menentukan kesuksesan sebuah produk??
Karena target profit tiap perusahaan tidaklah sama. Ada perbandingan relatif antara produk sukses dan tujuan perusahaan. Produk A yang profitnya lebih tinggi dari produk B, belum tentu dikatakan produknya sukses oleh perusahaan karena target profit yang diinginkan belum tercapai. Produk C yang profitnya lebih rendah dari produk D, belum tentu target suksesnya belum tercapai. Meski profit adalah sebuah alat yang handal untuk mengukur suksesnya sebuah produk, tetap, masih ada bias disana jika ingin menjadikan profit sebagai perbandingan kesuksesan antar produk.

Ada orang-orang yang cukup dengan melayani orang lain dan melihat binar kebahagiaan di mata mereka hingga mereka bisa tersenyum puas.
“Inilah kesuksesan.” kata mereka
Ada orang-orang yang harus mencapai sebuah kedudukan tertentu untuk kemudian bisa berkata,
“Ahh yaa, inilah yang selama ini aku inginkan.”

Ada yang ingin sesukses Kisra Raja Persia, ada pula yang ingin sesukses Rasulullah..

Terlalu bias jika membandingkan sesuatu yang tampak karena kita tak tahu apa yang menjadi patokan tiap orang untuk mencapai suksesnya, kan.

Anasir Dunia Itu…

Harta, kedudukan, prestise, pandangan manusia, dan 1001 anasir dunia lainnya. Jika sedemikian memberatkan kenapa masih di bawa juga??
Bukankah semua akan lebih ringan jika ditinggalkan. Ini semua, tidak relevan dengan seluruh perjalanan menuju tujuan.

Jikalau, dunia ini hanyalah sebuah permainan. Kita tinggal menjadikan dunia itu sebuah bola baseball, pukul sejauh-jauhnya and…yess, home run..!!
Lepaskan bat di tangan. Lalu, berlarilah sekuatnya menuju base. Skor pun tercetak di akhir. Banyak.
Bukankah begitu, seharusnya??

Jika kita terlahir sebagai seorang budak, mempunyai 1 tuan itu lebih menyenangkan. Tak perlu dibuat bingung dengan tuan-tuan yang lain. Cukup berpaling ke sang tuan dan melihat reaksi yang akan ia berikan. Anggukan atau gelengan. Melangkah atau berhenti.
Reaksi yang lain, irrelevant.
Bukankah begitu, seharusnya??

Lalu, kenapa masih harus memberatkan langkah dengan kesemuanya??
Lepaskan, murnikan, sucikan. Untuk Allah saja, semuanya…
Bisa??

“Obey Allah. Live your life. Love yourself. Love others. If people don’t like it, oh well. Just keep going.”

 

Dua idealisme berlawanan jalan, dalam satu diri. Pada akhirnya, harus dipilih salah satu kan. Yang paling menenangkan, yang paling diridhoiNya.

Yang mana??
Tanyakan padaNya…
Karena Dia tahu, mana yang masih banyak terkandung anasir dunia di dalamnya.
Karena Dia tahu, kebaikan yang ada di depan sana.

Karena Dia pun kuasa, untuk membuatmu mampu mengiringkan keduanya.

Tradeoff kehidupan…

Dua hari ini, seruangan dengannya. Seorang difabel dengan karakternya yang selalu terlihat lively. Untuk mengerjakan soal, ia perlu bantuan seorang panitia. Si bapak duduk disampingnya. Ia akan memberitahu si bapak jawabannya, dan si bapak akan melingkarinya di lembar jawaban.
-Seperti Stephen Hawking dengan ALS nya, mungkin.-

Melihat semangatnya, kemudian terpikir,
‘Tak malu kah, dengan semua pemberianNya yang tanpa cacat tapi tak pernah maksimal digunakan. Sedang ia, dengan keterbatasannya, dengan penuh percaya dirinya melangkah menggapai citanya.’

Semua titipanNya ini, akan ditanya penggunaannya. Akankah ia menjadi kebaikan yang mengalir meski jasadnya sudah tak berupa lagi. Atau ia hanya akan terhenti ketika ruh dicabut nanti. Atau ia hanya serupa onggokan yang sudah mati meski ruh masih ada di dalam diri. ??

Lalu, tersadarkanlah satu hal lagi. Masih terlalu seringnya berkutat dengan diri sendiri. Hingga dengan sekeliling pun menjadi kurang peduli. Masih ada banyak berserakan hal diluar diri yang bisa disapu dan dikumpulkan kemudian diproses daur ulang dan diberikan lagi untuk sekitar.

Semoga Allah selalu buka kan, hikmah yang tertutup…
Semoga Allah gerak kan, apa-apa yang belum juga beranjak…

78: 12-16

Tujuh langit yang kokoh dibangunNya. Pada langit terendah, dijadikanNya sebuah pelita yang terang benderang. DiturunkanNya air hujan dari segumpal awan. Air langit menumbuhkan apa-apa yang ada dalam bumi. Biji-bijian, tanam-tanaman, dan kebun-kebun yang rindang.

Bukankah lebih mudah menambah strip vertikal pada tanda (-) hingga menjadi (+) dibanding harus menghapus strip vertikal pada tanda (+) hingga menjadi (-)

#magrib
#soreBerkabut

Deja vu ketika berkutat dengan kertas dan pena di sebuah kamar berjendela kecil di turangga dan kamar nan sempit di meadow green.

Pada akhirnya, kehidupan seluruhnya adalah perjuangan.
Istirahat??
Nanti di surga saja. Itu pun jika kakimu mampu menapaknya. Karena ketakutan terbesar itu dari dulu selalu sama. Apakah ini semua akan berbalas surgaNya??

Asar, Kak~

Asar, Kak~

~ junk over nothing
Hanya, menemukan kembali kesenangan bermain dengan angka dan logika. Kesenangan yang sama sedari mengenal matematika.
Hanya, tak ingin lagi mengecewakan mereka yang menyayangi sepenuh jiwa.
Hanya, pengen balik ngejunk lagi bareng si bloggie karena bosan sama bang tweeto..heu..

Sesungguhnya Aku Bersama HambaKu yang Mengingat dan Bibirnya Menyebut Aku

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu..

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Aku bersama dengan hambaKu selama ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak menyebutkanKu.”
(Hadits shahih riwayat Ibnu Majah, al Hakim, dan Ahmad. Lihat Shahiihul Jaami’ no 1906)

img-20160925-wa0007

Penjelasan Hadits
Dzikir merupakan amalan ibadah yang sangat ringan namun pahalanya sangat besar, sebagaimana Nabi bersabda bahwa ada 2 kalimat yang ringan di lisan namun berat di timbangan amal sholih serta dicintai Allah, yaitu:
-) “subhanallahi wa bi hamdihi”
-) “subhanallahil ‘azhim”

Continue reading